RSS

PP. Roudlotuth Tholabah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

PP. Roudlotuth Tholabah.

Yah.. kali ini aku akan mengupas sedikit tentang pesantren kecil ini. PPRT singkatan yang biasa digunakan oleh para santri merupakan pesantren yang beralamat di Trowono, Karang Asem, Paliyan, Gunungkidul. Tepatnya adalah di sebelah selatan pasar Trowono. Roudlotuth Tholabah didirikan oleh santri jebolan pesantren Assalimiyah Melangi Sleman, beliau bernama Muhamad Mujib. Tahun berapa aku juga lupa tepatnya. Seiring berjalannya waktu pesantren ini dihuni oleh beberapa santri yang menetap dan puluhan santri kalong yang setiap sore menimba ilmu di pesantren tersebut dan aku termasuk didalamnya.

Pak Mujib biasa kami memanggil guru kami, dengan sabar mengajari kami setiap hari ilmu-ilmu agama seperti yang beliau dapatkan dipesantrennya dahulu. Bagi santri kalong, kami hanya diajari tentang ilmu tajwid untuk membaca Al-Quran dengan baik. Akan tetapi untuk santri yang menetap katanya sih diajari kitab kuning, apa itu aku pun juga tak tau. karena akau barulah anak kecil yang belajar alif, ba’, ta’ sampai ya’. Tapi ketidaktahuanku tidak membuatku patah semangat, aku terus belajar sebisaku. Dahulu aku ingat setiap malam ahad kliwon di pesantren kami mengadakan latihan Qitobah, seperti latihan ceramah gtulah gampangnya..Tapi aku tenang saja karena yang ditunjuk hanya santri yang menetap saja dan santri kalong yang sudah besar-besar. Acaranya sederhana tapi menurutku menarik, kita bisa latihan mental untuk berbicara di depan orang banyak.

Oia.. santri-santri yang menetap disana tidak dipungut biaya melainkan secara cuma-cuma alias gratis. Pak Mujib bukanlah seorang yang kaya raya yang mampu membiayai santri-santrinya setiap hari. Akan tetapi beliau mengajari santri untuk berdagang di pasar. Bermacam-macam dijual terutama keubutuhan sehari-hari seperti detergen, perabotan dapur, sampai mainan anak-anak. Jadi untuk kebutuhan maka bisa mencari dengan jerit payah mereka sendiri.

Beberapa tahun pesantren itu berjalan, sampailah ketika kakanya Mbak Umi istrinya Pak Mujib pulang dari pesantren. Tak lama seteah itu pesantren diserahkan oleh Pak Mujib kepada kakaknya Mas Khasanun. Yah.. Mas Khasanun pertama kali kami dulu memanggilnya. Pesantren masih berjalan seperti biasa meskipun saat itu Mas Khasanun yang memegang. Beliau bergantian mengajar kami, karena meskipun beralih tangan tetapi masih dalam satu atap mereka belau tinggal. Beberapa tahun kemudian Mas Khasanun menikah oleh seorang hafidzoh dari Piyungan Bantul. Maka dari itu lengkaplah guru kami saat itu, guru kitab kuning ada dan guru Al-Quran juga ada. Sampai suatu ketika Pak Mujib memutuskan untuk pindah rumah. “Ndewe” istilah dalah budaya jawa dan beliau mendirikan mushola kecil yang digunakan untuk mengajar anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih kurang pemahamannya tentang agama islam. Jadi PP. Roudlotuth Tholabah sampai saat ini di pegang oleh Bapak Ahmad Khasanun beserta Istrinya Ibu Siti Malikhah Towaf. Saat ini santri-santri masih kitab kuning dan hafidz Qur’an.

Demikian perjalanan pesantrenku dan sedikit profil dari PP. Roudlotuth Tholabah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Dedhy Kurniawan

Dedhy Mhey

a portrait of memories

imitation of life

Laris Abadi

Laris Abadi Works

My Site The Munawar

Tersenyumlah Karena Ku Tau Senyummu Itu Indah

%d bloggers like this: